Wali Katum: Kisah Wali yang Sederhana dan Karamahnya yang Melegenda

by admin note line update
41 views

noteline update -BANUA, Di tengah kesederhanaan hidup seorang wali bernama Muhammad Ramli, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Katum, tersembunyi kisah-kisah karamah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Hulu Sungai Tengah.

WALI Katum, yang berarti “wali yang tersembunyi,” dikenal karena kehidupannya yang zuhud dan dekat dengan Al-Qur’an.

Lahir dan tumbuh dalam keluarga yang taat agama, Wali Katum menghabiskan waktunya untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dia berguru kepada Syaikh Datu Ismail Nagara selama 11 tahun dan juga kepada Haji Gusti Hasan Basri (Wali Pisang).

Kehidupan sehari-harinya sangat sederhana. Rumahnya hanya berdinding dan berlantai rumbia, pakaiannya pun tak banyak.

Salah satu kisah karamahnya yang terkenal adalah pertemuannya dengan seorang jamaah haji dari Hulu Sungai di Makkah.

Jamaah tersebut melihat seorang pria berjalan tanpa alas kaki di tengah panasnya padang pasir.

Pria itu mengaku bernama Muhammad Ramli dan berasal dari Desa Tabu Darat. Jamaah haji itu kemudian membelikannya terompah, namun pria itu menghilang setelah menerimanya.

Sepulangnya ke kampung halaman, jamaah haji itu mencari Muhammad Ramli di Desa Tabu Darat.

Ia terkejut ketika mengetahui bahwa Muhammad Ramli yang ditemuinya di Makkah adalah seorang wali yang dikenal suka berkhalwat.

Lebih mengejutkan lagi, terompah yang dibelinya tergantung di dinding rumahnya.

Kisah lainnya adalah ketika Wali Katum kedatangan tamu di rumahnya. Saat para tamu hendak pulang, mereka bertanya apakah ada buah durian yang sudah matang di pohon yang berada di samping rumahnya.

Wali Katum kemudian melihat ke arah pohon durian, dan tiba-tiba sebuah durian matang jatuh dari pohonnya.

Selain kisah-kisah tersebut, Wali Katum juga dikenal memiliki karamah lainnya, seperti lampu duduk yang tidak pernah habis minyaknya saat digunakan untuk mengajar, rumahnya yang kecil mampu menampung banyak murid, air minum di teko kecil yang tidak pernah habis, tubuhnya yang tidak pernah digigit nyamuk, dan kemampuannya memasak nasi dengan kayu dari pelepah kelapa hijau dan panci dari tempurung kelapa yang selalu cukup untuk semua orang.

Wali Katum wafat pada 24 Juni 1982 M atau 29 Sya’ban 1402 H, meninggalkan warisan spiritual yang terus menginspirasi masyarakat hingga saat ini.

Kisah-kisah karamahnya menjadi bukti bahwa kesederhanaan dan ketakwaan dapat melahirkan keajaiban yang tak terduga.*

Lainnya

Edtior's Picks

Latest Articles