noteline update- BARITO KUALA, Rentetan peristiwa alam berupa empat kali terjangan badai yang melanda lokasi Pasar Wadai di bawah Jembatan Barito memicu sorotan tajam dari kalangan akademisi.
Pemerintah daerah didorong untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan lokasi tersebut demi menjamin keselamatan publik.

Antropolog sekaligus dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menegaskan bahwa Bupati selaku kepala daerah harus mengambil langkah kebijakan yang berbasis sains.
Hal ini penting agar pemerintah tidak terjebak dalam kebijakan zero sum game yang pada akhirnya merugikan masyarakat, terutama para pedagang dan pengunjung.
“Evaluasi harus berpijak pada pendekatan ilmiah. Kepala daerah mesti pro-sains agar kebijakan yang diambil benar-benar mempertimbangkan aspek keselamatan dan keberlanjutan,” kata Nasrullah, Selasa (4/3/2026).
Sebagai langkah konkret, Nasrullah mendesak pemerintah daerah untuk segera meminta pandangan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB/BPBD) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Koordinasi ini diperlukan untuk memetakan potensi risiko cuaca ekstrem di masa mendatang.
“Apakah ada potensi badai atau angin ribut dengan skala lebih besar? Ini harus dijawab secara ilmiah,” tegasnya.
Menurutnya, hasil kajian teknis dari lembaga-lembaga tersebut harus menjadi dasar utama dalam menentukan apakah aktivitas pasar di bawah Jembatan Barito masih layak dilanjutkan atau tidak.
Lebih lanjut, dari perspektif antropologi, Nasrullah memperingatkan bahwa pembiaran terhadap bencana yang berulang tanpa penjelasan ilmiah dapat memicu spekulasi liar di masyarakat.
Jika pemerintah tidak segera memberikan penjelasan berbasis data, masyarakat cenderung akan mengaitkan fenomena tersebut dengan tafsir metafisis, seperti mitologi, animisme, hingga hal-hal supranatural.
“Ini bukan anti-sains. Justru dalam kajian antropologi, fenomena seperti ini menunjukkan pentingnya sains hadir dalam kebijakan publik. Jika tidak, ruang tafsir metafisis akan tumbuh dengan sendirinya,” jelas Nasrullah.

Dia berharap pemerintah daerah bertindak cepat dan tegas karena aspek keselamatan publik adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan.
Kepastian lokasi yang aman sangat dinantikan oleh para pedagang yang menggantungkan mata pencahariannya di kawasan tersebut.*