noteline update -SEJARAH, Nama Untung mungkin terdengar ironis bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, seorang perwira militer yang pernah berprestasi justru berakhir dengan nasib tragis.
Letnan Kolonel Untung, pemimpin Gerakan 30 September (G30S), menjadi tokoh kontroversial dalam sejarah Indonesia.
Dalam catatan sejarah, Untung seringkali disejajarkan dengan tokoh-tokoh PKI seperti Musso dan Aidit, meskipun ia sendiri bukan bagian dari partai tersebut.
Gerakan yang dipimpinnya pada tahun 1965 mengakibatkan gugurnya tujuh Pahlawan Revolusi, sebuah tragedi yang membekas dalam ingatan bangsa.

Setelah gerakan tersebut gagal, Untung berusaha melarikan diri ke Jawa Tengah. Namun, pelariannya berakhir di Tegal pada tanggal 11 Oktober 1965, ketika ia ditangkap.
Kisah penangkapannya pun diwarnai cerita yang kurang mengenakkan. Dikabarkan bahwa Untung panik saat melihat seorang tentara di dalam bus yang ditumpanginya.
Ia kemudian melompat dan berusaha bersembunyi di tiang listrik, sebelum akhirnya ditangkap oleh warga dan hansip.
Setelah ditangkap, Untung dibawa ke Jakarta dan diadili di Gedung Bappenas pada awal tahun 1966.
Berdasarkan keputusan presiden, ia dipecat dengan tidak hormat dari ABRI setelah 20 tahun mengabdi sebagai tentara.
Tak hanya itu, ia juga dijatuhi hukuman mati atas perannya sebagai pemimpin G30S.
Eksekusi mati Untung menjadi babak akhir dari perjalanan hidup seorang tokoh yang dulunya diharapkan dapat membawa keberuntungan, namun justru berakhir dengan kesialan dan tragedi.*