noteline update- NASIONAL, Di era ketika Republik Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya, muncul sosok pemuda dari ujung barat negeri yang hatinya penuh cinta, Teungku Nyak Sandang.
Lahir di Mukhan, Indra Jaya, Aceh Jaya, pada 4 Februari 1927, dia bukan seorang prajurit atau pejabat, namun jasanya menjadi pondasi bagi kelahiran pesawat pertama bangsa yang kemudian melahirkan Garuda Indonesia.

Perjalanan itu dimulai pada pertengahan Juni 1948, ketika Presiden Soekarno mengunjungi Aceh.
Di pertemuan besar di Aceh Hotel, Bung Karno memicu semangat patriotisme rakyat, menantang mereka untuk membantu membiayai pembelian pesawat bagi negara yang masih muda.
Seruan itu langsung dijawab oleh M. Djuned Joesoef, ketua Gabungan Saudagar Indonesia Aceh, yang menjadi penyumbang pertama.
Sumbangan kemudian mengalir deras dari seluruh lapisan masyarakat Aceh.
Ketika Abu Daud Beureueh berpidato di halaman masjid Calang, seorang pemuda 21 tahun itu tergugah.
Teungku Nyak Sandang pulang ke rumah dan meminta izin ayahnya untuk menjual seluruh harta benda miliknya, sebuah kebun seluas satu hektar dengan 40 pohon kelapa.

Hasil penjualan sebesar 100 rupiah (setara 20 mayam emas), harta berharga di masa ekonomi tidak stabil.
Segera dirinya serahkan kepada negara melalui Wedana Calang, kemudian sampai ke tangan Bung Karno.
Uang dari rakyat Aceh, termasuk sumbangan Teungku Nyak Sandang, digunakan untuk membeli pesawat DC-3 Dakota yang diberi nama Seulawah RI 001 diambil dari nama Gunung Seulawah.

Pesawat ini menjadi simbol kemerdekaan pertama bangsa. Pada 28 Desember 1949, dia membawa Bung Karno dari Yogyakarta ke Kemayoran untuk pelantikan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat.
Dari situ lahir Garuda Indonesia Airways, yang diresmikan dengan puisi Raden Mas Noto Soeroto:
“Akulah Garuda, burung Wisnu, yang mengembangkan sayapnya tinggi di atas kepulauanmu.”
Setelah tujuh dekade, pada 25 Agustus 2025, sejarah memberikan apresiasi tertinggi.

Di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang yang saat itu berusia 98 tahun dan hadir dengan kursi roda.
Presiden bahkan berlutut di hadapannya untuk menyematkan penghargaan. Seluruh hadirin berdiri dan memberi tepuk tangan gemuruh, menghormati semangat keikhlasan dan pengorbanan yang ia tinggalkan bagi seluruh anak bangsa.*