Banjir Sumatera 2025: Siklon Anomali, Hujan Ekstrem, dan Deforestasi Sebagai “Triple Tantangan”

by admin note line update
22 views

noteline update-NASIONAL, Banjir yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera pada periode akhir tahun 2025 telah menyebabkan korban jiwa yang mengkhawatirkan, dengan data terbaru menunjukkan lebih dari 600 orang tewas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bencana ini tidak lagi dilihat sebagai akibat tunggal dari cuaca buruk, melainkan hasil kombinasi tiga faktor utama yang disebut para ahli sebagai “triple tantangan” yang saling memperkuat dampaknya.

Analisis bersama dari pakar universitas ITB dan UGM mengungkapkan bahwa ketiga faktor tersebut saling terkait, menjadikan dampak bencana jauh lebih parah daripada jika terjadi secara terpisah.

Yang pertama adalah curah hujan ekstrem yang mencapai intensitas sebanding dengan banjir besar di Jakarta tahun 2020 volume air yang turun begitu banyak dan cepat sehingga sistem drainase serta permukaan daratan tidak mampu menampungnya.

Faktor kedua adalah kerusakan ekosistem di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menjadi penyumbang utama terjadinya banjir.

Pakar geospasial dari ITB menjelaskan bahwa deforestasi yang berlangsung dan perubahan fungsi lahan menjadi pemukiman atau areal perkebunan telah menghilangkan tutupan vegetasi yang berperan sebagai penyerap air.

Tanah yang terbuka membuat air hujan mengalir langsung ke sungai tanpa penahanan, sehingga mempercepat terjadinya genangan dan banjir.

Selain itu, kehadiran Siklon Tropis Senyar yang dinilai anomali oleh para ahli meteorologi turut berkontribusi pada terbentuknya sistem cuaca yang menimbulkan hujan ekstrem.

Kondisi siklon ini dianggap tidak lazim untuk musim dan wilayah tersebut, sehingga menambah tekanan pada situasi yang sudah kritis.

Perlu diperhatikan bahwa istilah “triple tantangan” ini berbeda dengan “triple disaster” yang digunakan pada bencana Sulawesi Tengah 2018 yang melibatkan gempa, tsunami, dan likuefaksi.

Untuk kasus banjir Sumatera tahun 2025, istilah ini lebih menekankan kombinasi faktor hidrometeorologi dan ekologis yang saling memperparah, menjadikannya bencana yang sulit dicegah dan memiliki konsekuensi mematikan.*

Lainnya

Edtior's Picks

Latest Articles